Gen Z nggak cuma jago bikin konten dan viral di TikTok. Mereka juga punya kekuatan besar untuk merawat tradisi—dan lewat tradisi itu, membangun karakter yang tangguh, berakhlak, dan beridentitas. Afwan Riyadi – Founder RESENSI Indonesia
Ketika Tradisi Bertemu Generasi Z: Bukan Konflik, Tapi Kolaborasi
Selama ini, banyak yang menganggap Gen Z—generasi yang lahir antara 1997 dan 2012—sebagai generasi yang jauh dari tradisi. Mereka dianggap lebih akrab dengan gawai, media sosial, dan budaya pop global ketimbang dengan tembang macapat, wayang kulit, atau tenun ikat. Tapi anggapan itu ternyata salah besar.
Lihat saja apa yang terjadi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada November 2025. Lebih dari seribu peserta—mayoritas mahasiswa dan anak muda—memadati Gedung Serbaguna untuk mengikuti Ngaji Budaya, sebuah forum yang memadukan ceramah agama dengan seni tradisional. Mereka datang bukan karena dipaksa, tapi karena rindu. Rindu akan ruang keagamaan yang humanis, ekspresif, dan nggak menggurui.
“Ngaji Budaya memberi wawasan bahwa doa, seni, dan tradisi bisa berjalan bersama. Saya pulang bukan hanya dengan ilmu baru, tetapi juga semangat untuk melestarikan budaya lokal,” tutur Muhammad Robby, salah satu peserta.
Fenomena ini membuktikan satu hal: Gen Z bukan anti-tradisi. Mereka hanya butuh cara yang tepat untuk terhubung dengannya. Dan Ngaji Budaya—dengan pendekatan seni, dialog, dan konten digital—telah menemukan formula itu.
Mengapa Tradisi Penting untuk Membangun Karakter Gen Z?
Tradisi bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah sistem pendidikan karakter yang telah teruji selama berabad-abad. Di dalam setiap tembang, tarian, dan ritual, tersimpan nilai-nilai yang membentuk manusia menjadi pribadi yang utuh.
Pertama, tradisi mengajarkan kesabaran dan ketekunan. Seorang penenun di Nusa Tenggara Timur menghabiskan berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu helai kain. Seorang dalang menghafal puluhan lakon wayang selama bertahun-tahun. Seorang penari Bali berlatih gerakan demi gerakan hingga sempurna. Di era instan seperti sekarang, tradisi mengajarkan bahwa hal-hal terbaik butuh proses.
Kedua, tradisi mengajarkan hormat dan kebersamaan. Dalam tradisi bajamba di Minangkabau, warga duduk bersama dan makan dari hidangan yang sama. Dalam sedekah bumi di desa-desa Jawa, seluruh warga bergotong royong menyiapkan acara. Dalam maghrib mengaji di langgar kampung, anak-anak belajar Al-Qur’an bersama-sama. Tradisi adalah sekolah sosial yang mengajarkan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri.
Ketiga, tradisi mengajarkan identitas dan kebanggaan. Ketika Gen Z tahu bahwa pencak silat telah diakui UNESCO, bahwa rendang dinobatkan sebagai makanan terlezat di dunia, bahwa kolintang dan reyog telah mendunia—mereka punya alasan kuat untuk bangga. Kebanggaan pada budaya sendiri adalah fondasi kepercayaan diri yang tidak goyah oleh tren sesaat.
Keempat, tradisi mengajarkan spiritualitas yang membumi. Ngaji Budaya, misalnya, menunjukkan bahwa agama dan budaya bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya saling menguatkan. Seperti pesan Candra Malik dari Lesbumi PBNU: “Mendaras kitab suci itu utama, tetapi melestarikan tembang macapat jangan ditinggalkan.”
GenZBerbudaya .. Gerakan yang Sudah Dimulai
Kabar baiknya, gerakan ini sudah dimulai. Di berbagai daerah, anak muda telah mengambil inisiatif untuk merawat tradisi dengan cara mereka sendiri.
Di Desa Tayu Wetan, Pati, Karang Taruna “Melati” memprakarsai forum diskusi kebudayaan agar warga semakin mencintai tanah kelahirannya. Di Desa Pejanggik, Lombok Tengah, dialog partisipatif antara pemuda dan tokoh agama melahirkan Tim Penggerak Desa Wisata. Di Kampung Adat Kuta, Ciamis, anak-anak muda membuat konten TikTok tentang tradisi leluhur mereka—dan berhasil menjangkau ribuan penonton.
Di kota-kota besar, komunitas seperti RESENSI Indonesia menjadi wadah bagi Gen Z untuk mengekspresikan spiritualitas lewat seni. Mereka menonton film “Tauhid”, membaca puisi, dan berdiskusi tentang Islam menjawab tantangan zaman dan semuanya dalam suasana yang akrab dan menyenangkan.
Yang menarik, gerakan ini tidak pernah kehilangan akar. Ia justru memperkuat akar dengan cara yang relevan. Gen Z tidak meninggalkan tradisi; mereka membawa tradisi ke abad ke-21.
Bagaimana Gen Z Bisa Memulai?
Buat kamu yang ingin ikut gerakan #GenZBerbudaya, ini langkah-langkah praktisnya:
1. Mulai dari yang Terdekat
Kamu tidak perlu langsung belajar wayang kulit atau menjadi dalang. Mulailah dari tradisi yang ada di sekitarmu. Ikut pengajian kampung. Belajar memasak rendang dari nenek. Menonton pertunjukan reyog di desa sebelah. Tradisi dimulai dari rasa penasaran.
2. Dokumentasikan dan Bagikan
Gen Z punya kelebihan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya: media sosial. Buat konten tentang tradisi yang kamu pelajari—video pendek, foto, atau cerita di Instagram Story. Seperti yang dilakukan anak-anak Kampung Adat Kuta, konten digital bisa menjadi jembatan antara tradisi dan dunia modern.
3. Libatkan Diri dalam Komunitas
Bergabunglah dengan Karang Taruna, komunitas seni, atau forum Ngaji Budaya di kotamu. Di sana, kamu akan bertemu orang-orang yang punya semangat sama. Gerakan selalu lebih kuat ketika dilakukan bersama.
4. Jadilah Kreator, Bukan Sekadar Konsumen
Jangan hanya menonton. Ciptakan sesuatu. Tulis puisi tentang alam desamu. Buat lagu dengan lirik bahasa daerah. Rancang desain kaos dengan motif tenun. Gen Z adalah generasi kreatif—gunakan kreativitas itu untuk budaya.
5. Rayakan Perbedaan
Ngaji Budaya mengajarkan bahwa perbedaan bukan ancaman. Ikutlah dalam forum lintas iman, dialog antarbudaya, atau pertemuan dengan teman-teman dari daerah lain. Karakter terbaik lahir dari perjumpaan dengan yang berbeda.
Karakter Terbaik .. Apa yang Akan Kita Wariskan?
Pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting adalah: karakter seperti apa yang ingin kita bangun?
Tradisi mengajarkan kita untuk sabar—karena karya terbaik butuh waktu.
Tradisi mengajarkan kita untuk hormat—pada orang tua, pada leluhur, pada alam.
Tradisi mengajarkan kita untuk bersama—karena kita adalah makhluk sosial.
Tradisi mengajarkan kita untuk bangga—pada identitas dan akar kita.
Tradisi mengajarkan kita untuk bertanggung jawab—menjaga warisan agar tidak punah.
Inilah karakter terbaik yang bisa kita bangun: Gen Z yang modern tapi berakar, kreatif tapi beradab, global tapi beridentitas.
Dan semua itu dimulai dari satu langkah sederhana: mau belajar dari tradisi.
Saatnya GenZBerbudaya
Jadi, tunggu apa lagi?
Nyalakan kamera. Buka buku catatan. Datang ke pengajian. Belajar menari. Mainkan gamelan. Tulis cerita rakyat. Rekam lagu daerah. Buat konten tentang budaya. Jadilah bagian dari gerakan ini.
Karena tradisi bukanlah masa lalu. Tradisi adalah masa depan—dan Gen Z adalah penjaganya.
Mari lestarikan tradisi. Mari bangun karakter terbaik. Mari jadi GenZBerbudaya.