Ada sesuatu yang sedang bergerak di industri film Indonesia. Bukan sekadar tren box office atau viral di media sosial—tapi sebuah kesadaran baru bahwa film bukan cuma tontonan. Film adalah cara kita bicara tentang rasa, merawat seni, dan membangun budaya. Dalam workshop SenBud bertajuk “Film Kecil, Panggung Besar,” tiga nama besar—Gita Fara, Jujur Prananto, dan Fauzan Zidni—duduk bersama untuk membedah fenomena ini. Dan obrolannya? Bikin merinding, sekaligus bikin bangga.
Gita Fara: Dari Ide Kecil ke Panggung Dunia
Mbak Gita Fara—produser di balik film “Pangku”—bukan nama baru di industri perfilman Indonesia. Bersama Arya Ibrahim, ia membidani lahirnya film yang berhasil menyabet 4 penghargaan FFI dan 4 penghargaan di Busan Film Festival. Tapi perjalanannya nggak semulus yang dibayangkan.
“Semua dimulai dari sebuah ide sederhana,” tutur Gita. “Tapi ide tanpa eksekusi yang tepat cuma jadi angan-angan. Prosesnya panjang—dari riset, penulisan skenario, pencarian aktor, hingga produksi. Setiap tahap punya tantangannya sendiri.”
Yang membuat “Pangku” berhasil di festival? Gita menyebut tiga faktor kunci: kejujuran cerita, kekuatan visual, dan kedalaman emosi. “Festival film tidak cuma melihat teknik. Mereka mencari karya yang punya suara. Film yang berani bicara tentang sesuatu yang penting, dengan cara yang otentik.”
Tapi Gita juga angkat bicara soal hubungan antara festival dan box office. “Festival dan box office itu dua dunia yang berbeda. Festival menghargai eksplorasi artistik; box office menghargai koneksi dengan penonton. Film yang berhasil di festival belum tentu sukses di bioskop—dan sebaliknya. Tapi yang paling ideal adalah ketika keduanya bisa bertemu: film yang punya kedalaman seni, tapi juga bisa dinikmati banyak orang.”
Soal era digital dan AI? Gita cukup optimis. “AI akan mengubah cara kita membuat film—dari penulisan skenario hingga produksi. Tapi AI tidak bisa menggantikan rasa. Teknologi bisa membantu, tapi yang membuat film hidup adalah sentuhan manusia: emosi, intuisi, dan keberanian untuk bercerita.”
Jujur Prananto: Skenario adalah Nyawa Film
Pak Jujur Prananto—penulis skenario senior yang telah melewati era seluloid hingga digital—punya pandangan yang tajam tentang industri film Indonesia. “Sekarang ini, keragaman cerita luar biasa,” ujarnya. “Dari drama keluarga, horor, hingga biopik. Itu bagus. Tapi keragaman bukan cuma soal genre—keragaman adalah soal perspektif. Siapa yang bercerita, dan dari sudut pandang mana.”
Soal pentingnya skenario, Pak Jujur punya analogi yang sederhana tapi mengena. “Skenario itu blueprint. Kalau blue print-nya bagus, di tangan sutradara yang baik, hasilnya bisa jadi karya luar biasa. Kalau blue print-nya kurang oke, di tangan sutradara yang baik, masih ada harapan. Tapi kalau blue print-nya bagus, di tangan sutradara yang kurang baik, hasilnya cenderung gagal. Jadi skenario itu penting—tapi eksekusi juga sama pentingnya.”
Lalu, cara bercerita seperti apa yang membuat film diterima masyarakat? Pak Jujur menjawab dengan pengalaman panjangnya. “Film yang berhasil adalah film yang membuat penonton merasa terwakili. Mereka melihat diri mereka sendiri di layar—atau setidaknya, mereka melihat sesuatu yang mereka rindukan. Itu sebabnya drama keluarga selalu punya tempat di hati penonton. Karena keluarga adalah pengalaman universal.”
Fauzan Zidni: Membangun Ekosistem, Membawa Indonesia ke Cannes
Mas Fauzan Zidni—Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI)—tidak hanya bicara soal film. Ia bicara soal ekosistem. “BPI hadir sebagai mitra pemerintah untuk memastikan ekosistem perfilman Indonesia sehat. Bukan cuma soal produksi, tapi juga distribusi, apresiasi, dan pengembangan SDM.”
Langkah-langkah yang sudah dilakukan BPI? Fauzan menyebut beberapa: fasilitasi produksi, pendampingan festival, pelatihan SDM, dan advokasi kebijakan. “Kami ingin memastikan bahwa film Indonesia bukan cuma bisa dibuat, tapi juga bisa dinikmati, diapresiasi, dan bersaing di panggung global.”
Soal daya saing film Indonesia, Fauzan cukup realistis. “Kita sudah banyak kemajuan. Dari segi teknologi, kita bisa mengikuti standar internasional. Dari segi SDM, banyak talenta muda yang luar biasa. Tapi dari segi cerita, kita masih perlu terus menggali—menggali kekayaan budaya kita, menggali pengalaman masyarakat kita. Film yang kuat adalah film yang berakar pada realitas, tapi berbicara pada kemanusiaan universal.”
Pengalaman Fauzan membawa “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” ke Cannes 2017 adalah bukti bahwa film Indonesia bisa mendunia. “Itu momen yang sangat berharga. Film Indonesia pertama yang lolos seleksi Cannes. Tapi lebih dari itu, itu bukti bahwa cerita Indonesia—yang lahir dari budaya lokal—bisa diterima dan dihargai di panggung dunia.”
Film Kecil, Panggung Besar: Sebuah Manifestasi Rasa
Workshop “Film Kecil, Panggung Besar” bukanlah sekadar acara seremonial. Ia adalah manifestasi dari kesadaran baru bahwa film—betapapun kecilnya—punya potensi besar untuk mengubah cara kita melihat dunia.
Film kecil bukan berarti film murahan. Film kecil adalah film yang lahir dari keterbatasan tapi kaya akan makna. Film yang tidak bergantung pada anggaran besar, tapi pada kejujuran cerita dan kedalaman rasa. Film yang tidak mengejar tren, tapi menciptakan tren—atau setidaknya, menawarkan alternatif.
Panggung besar bukan berarti festival internasional atau bioskop megah. Panggung besar adalah hati penonton. Ketika sebuah film berhasil menyentuh penonton, mengubah cara pandang mereka, atau membuat mereka merasa terwakili—di situlah film telah naik ke panggung yang sesungguhnya.
Dan di sinilah rasa, seni, dan budaya bertemu. Rasa adalah bahan bakarnya—emosi, intuisi, pengalaman manusia yang menjadi sumber cerita. Seni adalah cara mengolahnya—teknik, estetika, dan keberanian untuk bereksperimen. Budaya adalah akarnya—nilai, tradisi, dan identitas yang membuat film Indonesia punya warna yang khas.
Ngobrol Santai, Bukan Seminar Membosankan
Yang menarik dari workshop ini adalah suasananya. Bukan seminar kaku dengan deretan slide dan jargon teknis. Ini lebih seperti ngobrol bareng teman—duduk santai, ngopi, dan bicara tentang hal-hal yang mereka cintai: film.
Peserta yang hadir—dari mahasiswa, filmmaker muda, hingga penonton biasa—bisa langsung bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman. Ada yang bertanya soal cara mendapatkan dana produksi. Ada yang bertanya soal cara menembus festival internasional. Ada juga yang bertanya soal bagaimana mempertahankan idealisme di tengah tekanan industri.
Dan jawabannya? Selalu kembali ke satu hal: rasa. “Kalau kamu bikin film karena ingin viral, hasilnya akan terasa hambar,” kata Gita. “Tapi kalau kamu bikin film karena ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan—sesuatu yang mengganjal di hati—itu akan terasa. Penonton bisa merasakan.”
Gen Z dan Masa Depan Film Indonesia
Salah satu momen paling menarik adalah ketika peserta bertanya soal peran Gen Z dalam industri film. Fauzan menjawab dengan antusias. “Gen Z adalah generasi yang paling melek media. Mereka tidak hanya menonton—mereka membuat konten, mendistribusikan, dan menciptakan komunitas. Itu kekuatan besar.”
Jujur menambahkan: “Saya melihat banyak anak muda yang bikin film pendek dengan gawai. Itu luar biasa. Teknologi sudah sedemikian mudah diakses. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk bercerita—dan kejujuran untuk menyampaikan rasa.”
Gita menutup dengan pesan yang membekas: “Jangan menunggu sempurna untuk mulai. Mulailah dari apa yang ada. Kamera ponsel, teman-teman terdekat, cerita yang paling dekat dengan hatimu. Film kecil, panggung besar. Itu bukan slogan—itu realita.”
Rasa, Seni, dan Budaya: Segitiga Emas Perfilman Indonesia
Dari obrolan tiga narasumber, satu benang merah terlihat jelas: film yang baik adalah film yang berakar pada rasa, diolah dengan seni, dan mengakar pada budaya.
Rasa membuat film punya nyawa. Tanpa rasa, film hanya rangkaian gambar yang bergerak.
Seni membuat film punya bentuk. Tanpa seni, film hanya cerita yang ditumpahkan tanpa estetika.
Budaya membuat film punya identitas. Tanpa budaya, film Indonesia hanya tiruan dari Hollywood atau Korea.
Ketika ketiganya bertemu—seperti dalam “Pangku”, seperti dalam “Marlina”, seperti dalam film-film kecil yang berani bicara—di situlah film Indonesia menemukan jati dirinya.
Saatnya Film Kecil Naik Panggung
Workshop “Film Kecil, Panggung Besar” adalah pengingat bahwa industri film Indonesia tidak hanya tentang box office atau festival. Ia tentang rasa yang ingin disampaikan. Tentang seni yang ingin dirayakan. Tentang budaya yang ingin diwariskan.
Dan jika ada satu pesan yang ingin disampaikan oleh ketiga narasumber, itu adalah: jangan takut bermimpi besar, tapi mulailah dari hal kecil.
Karena film kecil—yang lahir dari rasa, diolah dengan seni, dan berakar pada budaya—adalah film yang akan naik ke panggung besar: hati penonton Indonesia, dan mungkin, dunia.
“Film yang baik adalah film yang membuat kita merasa lebih manusiawi setelah menontonnya.” — Gita Fara
“Skenario adalah blueprint. Tapi rasa adalah fondasinya.” — Jujur Prananto
“Film Indonesia sudah bisa bersaing. Sekarang tinggal bagaimana kita terus bercerita dengan berani.” — Fauzan Zidni
🎬🇮🇩✨