Penyelidikan mengenai tingkat kesadaran sejarah suatu masyarakat merupakan pekerjaan penelitian yang sangat penting karena berkaitan erat dengan sistem pendidikan ilmu sejarah di sekolah hingga perguruan tinggi, serta kompetensi para guru pengampunya. Guru yang tidak mendapatkan pendidikan sejarah secara lengkap—misalnya berlatar belakang rumpun IPA—serta minim inisiatif untuk mengembangkan ilmunya dan hanya bergantung pada buku teks, dapat melahirkan murid-murid yang mengetahui sejarah secara fragmentaris. Akibatnya, kelompok murid tersebut berpotensi menjadi pasif atau apatis terhadap unsur kesadaran berbangsa. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang menganggap ilmu sejarah tidak memiliki manfaat langsung dalam kehidupan, sehingga menjadi penghambat utama dalam membangun dinamika spiritual dan kerangka berpikir tiga dimensi yang diperlukan untuk menghadapi masa depan.
Kurangnya perhatian terhadap pendidikan sejarah pada masa lalu, di mana sejarah sering kali hanya dijadikan mata pelajaran pelengkap dengan jam terbatas, berdampak pada rendahnya sense of history dan historical mindedness di tengah masyarakat. Hal ini membuat sebagian masyarakat asing terhadap sejarah perjuangan bangsanya sendiri, sehingga rentan dipengaruhi oleh propaganda politik yang menyesatkan maupun terperangkap oleh “negatifisme” kebudayaan asing. Sebaliknya, apabila kesadaran sejarah tumbuh dan mentradisi, hal tersebut tidak hanya memperkuat semangat patriotisme, nasionalisme, dan rasa cinta tanah air, tetapi juga menumbuhkan harga diri bangsa agar dihormati oleh bangsa lain.
Sebagai wujud nyata perhatian terhadap persoalan ini, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan proyek penelitian untuk mengukur tingkat kesadaran,pemahaman, dan pandangan sejarah masyarakat di berbagai kawasan sampel. Kotamadya Semarang di Provinsi Jawa Tengah dipilih sebagai salah satu lokasi penelitian karena wilayahnya yang padat, maju dalam bidang pendidikan, serta memiliki karakteristik masyarakat majemuk—termasuk kelompok etnik Jawa,keturunan Cina, Arab, dan lainnya—yang menarik untuk dikaji tingkat pemahaman sejarah serta proses pembaruannya dalam interaksi sosial.
Berdasarkan hasil pengumpulan data dari responden di wilayah penelitian, diperoleh berbagai pola mengenai sumber asal mereka dalam mempelajari sejarah. Sebagian besar responden menempatkan sekolah sebagai tempat pertama memperoleh pelajaran sejarah, diikuti oleh buku bacaan, pertunjukan, serta sarana verbal.Kendati demikian, terdapat sejumlah responden yang tidak menyebutkan sekolah, yang kemungkinan disebabkan oleh tidak diperolehnya pelajaran sejarah di SLTA atau kurangnya pemahaman terhadap pertanyaan. Selain itu, temuan survei juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden (96,6%) merasa materi pelajaran sejarah di SLTA tidak mencukupi, sehingga mereka mencari sumber tambahan lain seperti buku-buku bacaan lain (53,3%), cerita orang tua atau rakyat (30%), film (30%), televisi/radio (13,3%), buku PSPB, hingga literatur khusus seperti 30 Tahun Indonesia Merdeka. Melalui temuan-temuan ini, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi landasan untuk menyempurnakan program pengembangan kesadaran sejarah masyarakat secara lebih komprehensif.